Jumat, 16 April 2010

TEHNIK KOMUNIKASI PADA KEADAAN KHUSUS

Gangguan indra pada klien yang dirawat di Rumah Sakit ataupun individu di dalam masyarakat umum antara lain disebabkan oleh :
1. Gangguan anatomik organ
2. Gangguan fisiologik organ
3. Kematangan/ maturasi
4. Degenerasi
5. Kognitif persepsi
Dalam melakukan komunikasi, berbagai organ tubuh diperlukan untuk menghasilkan penyampaian pesan kepada lingkungan. Sistem organ penginderaan yang terlibat dalam komunikasi dikenal dengan pancaindera, yang meliputi penglihatan, penciuman, pendengaran, wicara dan peraba. Keseluruhan indra dikontrol oleh sistem saraf yang mengintegrasi sensasi / sensori yang dirasakan dan memori serta emosi yang tersimpan dalam otak.
Ada dua tingkat gangguan komunikasi yaitu gangguan pada sistem penginderaan dan pada tingkat integratif. Gangguan pada sistem penginderaan meliputi gangguan penglihatan, gangguan penginderaan dan gangguan wicara. Sedangkan gangguan yang melibatkan sistem integratif yang lebih tinggi, antara lain gangguan mental, gangguan maturasi pikir (degenerasi proses pikir) dan pada klien yang tidak sadar ; termasuk klien yang berbahasa asing.

Keadaan-keadaan khusus :
1. Komunikasi pada klien dengan gangguan penglihatan
2. Komunikasi pada klien dengan gangguan pendengaran
3. Komunikasi pada klien dengan gangguan wicara
4. Komunikasi pada klien yang tidak sadar
5. Komunikasi pada klien yang berbahasa asing
6. Komunikasi pada klien dengan tingkat pengetahuan rendah / gangguan kematangan kognitif.


KOMUNIKASI PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN WICARA

Neurofisiologi Bicara
Korteks serebri adalah permukaan serebrum yang merupakan pusat dari semua organ yang terdapat pada tubuh manusia. Korteks serebri merupakan pusat dari fungsi-fungsi sensoris dan fungsi-fungsi motoris.
Pergerakan organ bicara banyak ditentukan atau dikendalikan oleh kedua hemisfer akan tetapi kemampuan bahasa banyak ditentukan oleh hemisfer kiri. Pusat-pusat bahasa terdapat pada lobus frontalis, girus parasentralis, girus supramarginal, girus angularis, girus parietalis inferior, lobus temporalis serta bagian anterior dari lobus oksipitalis.

Mekanisme bicara

 Organ pendengaran :
Sumber bunyi → bunyi / getaran udara → impuls mekanik (telinga tengah) → impuls elektrik (telinga dalam) →saraf pendengaran (saraf austikus) → korteks pendengaran di otak.
 Pusat persepsi (Wernicke) :
Di sini impuls diolah dan diamati sehingga terdapat proses-proses : pembedaan rangsangan dengan latar belakang, penyimpanan rangsangan, pembentukan struktur dan analisa.
 Sound bank :
Bagian yang berfungsi sebagai relay station yang menghubungkan antara pusat persepsi dengan pusat pengertian. Disini rangsangan-rangsangan yang berarti atau akan diartikan dismpan dan diteruskan ke pusat pengertian untuk diolah lebih lanjut.
 Pusat pengertian :
Rangsangan yang diterima (setelah melalui proses sensasi dan persepsi) selanjutnya diasosiasikan dengan pengertian yang sudah dimiliki, melaui proses berpikir akhirnya rangsangan tersebut menjadi suatu konsep. Konsep tersebut selanjutnya disimpan dan siap dipergunakan dalam proses asosiasi, reproduksi, imajinasi, abstraksi, dan sekaligus akan berfungsi pula dalam proses berpikir.
 Engram otak :
Pusat menyimpan pola-pola garakan bunyi-bunyi (terutama bunyi bicara) yang diterima. Hal ini berfungsi ketika seseorang hendak mengekspresikan ide atau knsep yang diekspresikan tersebut dapat diterina dan dinengerti oleh pendengar sesuai dengan maksud pembicaranya.
 Pusat motorik :
Pusat mengendalikan pergerakan organ bicara, mekanisme pernafasan, fonasi, artikulasi dan resonansi sewaktu berbicara. Mekanisme tersebut sesuai dengan pola gerakan yang sudah ditentukan oleh engran bank.
 Organ bicara :
Meliputi seluruh organ yang berfungsi dalam proses pernafasan, fonasi, artikulasi dan resonansi. Organ pernapasan : diafragma, otot-otot dada, otot-otot perut, dan saluran pernapasan. Organ fonasi : laring terutama plika vokalis. Organ artikulasi : labium, palatum, lidah dan gigi serta faring.
 Umpan balik :
Merupakan suatu proses sensorik untuk mengendalikan (kesadaran dan kontrol ) pergerakan organ bicara. Dibedakan menjadi 2 macam :
1. Umpan balik auditorius : dimana dalam kurun waktu kurang dari seperseratus dua puluh lima detik (0.008 detik) seseorang akan mendengar suaranya sendiri. Dengan demikian ia akan mengetahui dan sadar terhadap kebenaran atau kesalahannya.
2. Umpan balik kinestetis : waktu terjadi mpuls motorik dari saraf ke otot sekaligus oaring akan merasakan pergerakan yang terjadi. Dengan demikian orang akan sadar tentang kebenaran atau kesalahan gerakan organ bicaranya.

Kesimpulanya mekanisme bicara dibedakan menjadi 2 proses :
1. Proses yang dimulai dari saat dimana seseorang mendengar rangsangan auditorius hingga terbentuk suatu konsep pengertian (proses reseptif).
2. Proses dimana seseorang mengungkapkan konsep pengertian melalui symbol bunyi yang diproduksi oleh organ bicara (proses ekspresif ) termasuk kesadaran dan pengendalian mekanisme bicara tersebut.

Kelainan Bicara
Kelainan bicara adalah salah satu jenis kelainan perilaku komunikasi yang ditandai dengan adanya kesalahan dalam proses produksi bunyi bicara. Secara klinis gejala kelainan bicara dalam hubungnnya dengan penyebab kelainan bicara tersebut dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Disaudia : Gangguan bicara akibat adanya gangguan pendengaran ini menyebabkan penderita mengalami kesulitan untuk menerima dan mengolah intensitas, nada dan kualitas bunyi bicara. Kompensasi : menggunakan bahas isyarat atau sikap tubuh dalam berkomunikasi.
2. Dislogia : Kelainan bicara berkenaan dengan rendahnya kapasitas mental intelektual atau tingkat kecerdasan.
3. Disartria : Kelainan bicara yang terjadi akibat adanya kelumpuhan, kelemahan, spastisitas atau gangguan koordinasi otot-otot organ-organ bicara sehubungan dengan adanya kerusakan atau lesi pada susunan saraf pusat maupun perifer.
4. Disglosia : Kelainan bicara yang terjadi akibat adanya kelainan bentuk dan struktur organ bicara, khususnya articulator. Misal palatoskisis ( celah pada palatum kadang disertai celah pada bibir), malokulasi (kelainan struktur gigi atas dan bawah), Anomali (sebab-sebab lain yang menyebabkan kelainan bentuk edan struktur organ bicara : menghisap ibu jari, sariawan, fraktur mandibula dll).
5. Dislalia : Kelainan bicara yang berkaitan dengan kondisi psikososial. Misal :
• Kurang perhatian auditif : tikus → kikus
• Rentang memori pendek : sepatu → tu atau atu
• Gangguan persepsi auditorius : bunyi bicara yang hampir sama, mata → maka
• Kesalahan meniru
• Idioglosia : pada anak kembar
• Bilingualisme
• Kesalahan artikulasi

Kelainan Bahasa
1. Keterlambatan perkembangan bahasa
2. Afasia

Kelainan Suara
1. Kelainan kenyaringan
2. Kelainan nada
3. Kelaianan kualitas
4. Afonia

Kelainan irama
1. Gagap
2. Cluttering : berbicara dengan suara yang sangat cepat
3. Palilalia ; Kecenderungan untuk mengulangi kata atau frase pada waktu mengucapkan kalimat

Penatalaksanaan Teraphy Wicara
Sifat tindakan dalam terapi wicara dapat dibedakan :
1. Kuratif
2. Rehabilitatif
3. Preventif
4. Promotif

Prosedur Terapi Wicara
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui gejala gangguan/ kelainan perilaku komunikasi secara sistematis, baik gejala subyektif atau gejala obyektif. Pengkajian melalui wawancara, observasi tes khusus untuk mengukur kemampuan komunikasi.
2. Diagnostik dan Prognostik
Berdasarkan pengkajian dapat ditentukan jenis dan latar belakang gangguan/ kelainan berupa kondisi anatomis, fisiologis, psikologis dan sosiologis. Dapat juga diperkirakan perkembangan optimal yang dapat atau mungkin dicapai oleh penderita.
3. Perencanaan
Isi perencanaan meliputi :
• Tujuan prosedur terpi wicara
• Metode dan tehnik terapi wicara dan alternatifnya
• Penggunaan alat dan fasilitas yang akan digunakan
• Rujukan intra dan interdisiplin
4. Pelaksanaan
• Stimulasi : Memberikan rangsang yang cukup kuat bias berupa visual, auditorius dan taktil
• Psikoedukasi : Memberikan pengertian agar penderita memiliki sikap yang positif terhadap perilaku komunikasinya sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungannya.
• Motokinestetik : Melatih penderita agar mampu menempatka organ atau otot dengan benar.
• Penempatan fonetik : Melatih penderita agar mampu menempatkan organ bicara pada tempat yang tepat dan menggerakkan dengan cara yang benar sehingga dapat mengucapkan bunyi bahasa yang benar.
• Kompensasi : Dilakukan apabila penderita tidak mungkin lagi untuk melakukan dengan cara yang normal.
5. Evaluasi
Untuk mengetahui perkembangan kemampuan yang di terapi, sehingga dapat diketahui kemungkinan penderita untuk dapat berkomunikasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan tahap pengembalian penderita pada aktivitas prilaku komunikasi seperti sebelum sakit.
Terapi wicara bukan satu-satunya pendekatan terhadap gangguan komunikasi, dalam memberikan terapi paripurna tetap diperlukan kerjasama dengan beberapa disiplin lain. Terapi wicara pada gangguan bahasa bersifat penyembuhan dan pemulihan. Tujuan akhirnya adalah mengembalikan penderita ke lingkungn semula atau resosialisasi. Tim rehabilitasi beranggotakan : dokter (ahli neurology), perawat terapi wicara, fisioterapis, terapis okupasi, protetis ortotis, pekerja social, psikolog dan keluarga penderita.

0 komentar:

Poskan Komentar